×

Panduan Menghitung SPT PPh Badan Secara Lengkap

August 23, 2017 Accounting

Sesuai namanya, pajak penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan atas penghasilan. Sedangkan, penghasilan mengacu pada setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh wajib pajak, dari dalam maupun luar negeri, baik untuk menambah kekayaan, konsumsi, investasi, dan lain sebagainya.

Ada dua jenis subjek PPh, yakni orang pribadi dan badan. Nah, bagi yang memiliki usaha sendiri, Anda wajib membayar PPh Badan. Sebelumnya, simak dulu penjelasan dan cara penghitungannya berikut agar Anda bisa lebih paham.

PPh BadanLakukan penghitungan SPT PPh Badan secara tepat agar laporan yang diberikan pun akurat. (Source: geralt – Pixabay)

  1. Subjek Pajak Penghasilan

    Berdasarkan UU KUP, yang termasuk dalam pengertian badan adalah Perseroan Terbatas (PT), Perseroan Komanditer (CV), perseroan lainnya, BUMN dengan nama dan dalam bentuk apa pun, BUMD dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi, massa, organisasi sosial politik atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif, dan bentuk usaha tetap.

    Ada pula pihak-pihak yang dikecualikan sebagai subjek pajak badan, yaitu:

    – Badan perwakilan negara asing

    – Organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan syarat

    – Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut

    – Tidak menjalankan usaha atau kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia, selain pemberian pinjaman

    – Kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para anggota

    – Unit tertentu dari badan pemerintah yang memenuhi kriteria

    – Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan undang-undang

    – Pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD

    – Penerimaannya masuk dalam anggaran pemerintah pusat atau daerah

    Baca juga: Panduan Perhitungan Pajak Penghasilan dan PPh 21

  2. 2 Objek PPh Badan

    Selain subjek, ada pula objek PPh Badan yang dibagi menjadi dua jenis, yaitu objek PPh tidak final dan objek PPh final. Objek PPh tidak final adalah objek pajak yang pada akhir tahun dihitung ulang, lalu diperhitungkan dengan kredit pajak yang telah dipotong pihak lain (jika ada). Sementara itu, objek PPh final adalah objek PPh yang pajaknya telah final atau selesai pada saat dipotong oleh pihak lain atau dipotong sendiri pada akhir tahun dan tidak dihitung ulang.

PPh BadanPastikan perusahaan Anda memang termasuk dalam subjek pajak badan. (Source: Alan Cleaver – Flickr)

  1. Jenis Tarif PPh Badan

    Badan usaha yang memiliki pendapatan bruto sampai Rp 4,8 miliar per tahun:

    – Dikenakan tarif pajak PPh final, yaitu PPh Pasal 4 Ayat 2 dengan perhitungan pajak 1% dikalikan dengan seluruh pendapatan bruto dari hasil usaha perseroan.

    – Berdasarkan PP 46 Tahun 2013, wajib pajak atau badan usaha wajib menyetorkan Pajak PPh tersebut setiap bulan paling lambat tanggal 15.

    Badan usaha yang memiliki pendapatan bruto lebih dari Rp 50 miliar per tahun:

    – Besarnya tarif pajak penghasilan PPh badan dikenakan tarif pajak tunggal 25% dikalikan dengan laba bersih sebelum pajak.

    Badan usaha yang memiliki pendapatan bruto antara Rp 4,8 miliar – Rp 50 miliar:

    – Tarif sebesar 12,5% untuk pajak penghasilan yang mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto sampai dengan Rp 4,8 miliar).

    – Tarif sebesar 25% untuk pajak penghasilan yang tidak mendapatkan fasilitas (pendapatan bruto Rp 4,8 miliar – Rp 50 miliar).

    Baca juga: Saatnya Lapor Pajak, Inilah Langkah untuk Lapor Pajak Online Menggunakan e-Filing

  2. Contoh Penghitungan PPh Badan

    Peredaran bruto PT XYZ pada tahun sebelumnya mencapai lebih dari Rp 4,8 miliar. Tahun ini, peredaran brutonya mencapai Rp 30 miliar dengan penghasilan kena pajak sebesar Rp 3 miliar. Berikut adalah penghitungan PPh-nya:

    Bagian penghasilan kena pajak yang memperoleh fasilitas:

    (Rp 4,8 miliar / Rp 30 miliar) x Rp 3 miliar = Rp 480 juta

    PPh Badan: 12,5% x Rp 480 juta = Rp 60 juta

    Bagian penghasilan kena pajak yang tidak memperoleh fasilitas:

    (Rp 3 miliar – Rp 480.000) = Rp 2.520 miliar

    PPh Bada: 25% x Rp 2.520 miliar = Rp 630 juta

    Total PPh Badan yang harus dibayar:

    Rp 60 juta + Rp 630 juta = Rp 690 juta

    Semoga kini Anda bisa memahami penghitungan SPT PPh Badan. Untuk memudahkan prosesnya, Anda bisa menggunakan 

software Sleekr HR yang dapat membantu membuat dan menghitung SPT PPh Badan secara praktis dan sistematis. Sistemnya yang ebrbasis cloud juga memungkinkan Anda untuk mengaksesnya dari mana pun dan kapan pun. Jika sudah paham, jangan lupa untuk rutin membayarnya setiap tahun. Mari jadi warga negara yang baik dengan taat membayar pajak!

Artikel terkait

5 Cara Marketing Terbaik Untuk Mendapatkan Klien Baru Bagi Akuntan

July 4, 2017 Accounting

Akuntan merupakan salah satu profesi yang cukup banyak tersedia. Jika Anda adalah seorang akuntan independen yang tidak bekerja di bawah perusahaan mana pun atau memiliki firma akuntan sendiri, Anda harus bisa mendapatkan klien untuk mendapatkan penghasilan, yang mana hal ini bukanlah hal yang mudah. Anda harus mampu menerapkan cara marketing yang tepat agar mampu mendatangkan banyak…

Baca selengkapnya