2 Cara Menilai dan Menentukan Indikator Kinerja Karyawan di Perusahaan


Menjalankan sebuah perusahaan tentu tidak lepas dari pengaruh dan andil dari manusia yang menjadi bagian dari perusahaan tersebut. Bekerja untuk mencapai target, apapun bentuknya, merupakan satu tujuan umum setiap perusahaan yang ada. Untuk itulah kemudian setiap SDM yang dimiliki hendaknya bekerja dengan maksimal guna mencapai tujuan ini. Jika kemudian terdapat perbedaan antara target dan kenyataan, maka perlu dilakukan penilaian kinerja karyawan untuk menggali mengapa bisa terjadi hal demikian. Penilaian ini kemudian memerlukan ukuran yang disebut dengan indikator kinerja karyawan.

Terdapat beberapa jenis penggolongan indikator kinerja karyawan yang bisa digunakan untuk diterapkan pada perusahaan Anda. Diantaranya adalah indikator kinerja karyawan kualitatif dan kuantitatif. Berikut penjelasannya.

  1. Indikator Kinerja Karyawan Kualitatif

    Secara kualitatif, Anda dapat menilai bagaimana kualitas seorang karyawan atau tim dalam melakukan pekerjaannya, tentu hasilnya berupa jabaran mendalam mengenai kinerja pegawai yang ada di perusahaan. Terdapat beberapa cara untuk melakukan hal ini, seperti:

    a. Pengaturan Berdasarkan Tujuan / Management by Objectives

    Cara ini mendasarkan penilaian pada bagaimana karyawan bekerja untuk mencapai tujuan utama dari perusahaan. Pertama adalah dengan menjabarkan tujuan perusahaan ke dalam tugas-tugas lebih kecil yang dijadikan sebagai tugas karyawan dan tim sehingga mereka memiliki jalan dan tujuan yang jelas. Tugas individu dan tim ini lalu dilaporkan pada atasan langsung yang akan mengetahui seberapa baik tugas-tugas tadi dijalankan dan dipenuhi. Nantinya tugas ini akan bisa diberikan lebih detail dengan berbekal laporan terbaru dari setiap karyawan dan tim.

    b. Produk Cacat

    Penilaian ini didasarkan pada jumlah produk cacat yang ada pada keseluruhan produksi perusahaan. Jumlah ini akan menggambarkan secara umum apakah kinerja karyawan semakin baik atau malah memburuk. Jumlah produk cacat yang ada berbanding terbalik dengan kualitas kinerja karyawan yang ada pada perusahaan tersebut.

    c. Forced Ranking

    Cara ini tergolong cukup ekstrim karena bisa berakibat langsung pada pemecatan pegawai dan tekanan kerja yang tinggi. Caranya adalah dengan membuat satu daftar lengkap seluruh karyawan dan mengurutkannya berdasarkan penilaian objektif yang diberikan oleh manajer. Perbandingan ini dilakukan antar karyawan sehingga bisa mendapatkan siapa yang terbaik dan terburuk. Nantinya 10% karyawan terburuk bisa mendapat ganjaran berupa kritikan hingga pemecatan karena tidak kunjung memperbaiki performanya. Hal ini diduga akan dapat membuat karyawan berusaha lebih keras untuk mendapat nilai atau ranking yang lebih tinggi.

  2. Indikator kinerja karyawan kuantitatif

    Indikator ini lebih mudah diukur karena menggunakan angka yang jelas sehingga akan langsung Nampak tanpa harus menggunakan interpretasi lebih lanjuit. Beberapa indikator yang bisa dijadikan acuan adalah  :

    a. Jumlah Penjualan

    Jelas, dengan angka penjualan yang tinggi bisa menjadi cermin bahwa kinerja karyawan baik. Indikator kinerja karyawan yang satu ini sangat banyak digunakan karena sederhana dan jelas. Mempertimbangkan kondisi pasar dan banyak hal lain, karyawan dengan kinerja baik akan berpengaruh pada naiknya jumlah penjualan yang terjadi.

    b. Jumlah Respon dan Inisiatif

    Indikator kinerja karyawan yang satu ini bisa dilihat dari banyaknya karyawan tersebut melakukan kontak pada konsumen potensial, jumlah telepon atau korespondensi yang dilakukan, jumlah kunjungan kerja, dan jumlah proyek yang ditangani. Logikanya, semakin tinggi jumlah angka-angka tersebut maka karyawan bekerja dengan optimal. Tentu kemudian masih harus dilihat kembali seberapa berhasil karyawan tersebut mendapatkan klien, namun dengan melihat jumlah aktivitas ini maka bisa dilihat pula bagaimana performa karyawan tersebut.

    c. Kecepatan Respon

    Pada bagian ini indikator kinerja karyawan yang diukur adalah untuk seberapa cepat karyawan tersebut merespon panggilan yang dilakukan pelanggan pada call center, berapa waktu yang dihabiskan karyawan untuk menjawab keluhan konsumen, dan tingkat kepuasan konsumen pada respon call center yang mereka dapatkan.

    d. Absen

    Tentu hal ini mencolok karena akan terlihat siapa karyawan yang hadir lebih dulu, konstan bekerja pada jam kerja yang diberikan, lembur yang dilakukan oleh setiap karyawan, dan siapa-siapa saja yang tidak masuk kerja atau cuti. Pelacakan absen ini semakin mudah ketika Anda menggunakan aplikasi atau layanan khusus yang mengurusi bidang ini.

Layanan Sleekr, hadir untuk membantu Anda melacak absensi pegawai yang ada di perusahaan Anda. Mulai dari kehadiran, waktu pulang, lembur, kunjungan keluar, cuti, izin atau tanpa keterangan, Sleekr bisa mencatat semua hal ini dan mengintegrasikannya sehingga akan memberikan gambaran jelas mengenai kehadiran dan jadwal karyawan yang ada, hal ini penting sebagai salah satu indikator kinerja karyawan karena semakin banyak jam kerja yang dihabiskan, maka besar kemungkinan semakin banyak pekerjaan yang dilakukan demi mencapai target perusahaan.