HR sebagai Strategic Business Partner

HR zaman sekarang tentu tak lagi sama dengan HR beberapa tahun lalu. Kini, HR di perusahaan tak lagi hanya tentang pengelolaan karyawan. Lebih dari itu, sebetulnya ada empat peran utama yang diemban oleh HRD, salah satunya adalah sebagai strategic business partner. Intinya, sebagai strategic business partner, HR diharapkan mampu berkontribusi terhadap pencapaian kinerja organisasi.

Dave Ulrich, seorang HR Champion, menjabarkan lebih jauh tentang peran HR sebagai strategic business partner. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, perusahaan dituntut untuk meningkatkan pangsa pasar, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan fokus pada area bisnis yang paling menguntungkan. Bagaimana HR bisa menjalankan perannya sebagai strategic business partner secara lancar?
hr, hrd, personalia, peran hrd, strategic business partnerSebagai strategic business partner, HR harus bisa menyesuaikan strateginya dengan target bisnis perusahaan. (Source: Unsplash)

  1. Pahami Dulu Beda antara HR dan Personalia

    Sebelum membahas lebih jauh tentang peran HRD sebagai strategic business partner, mari menyamakan perspektif dulu. HR tidaklah sama dengan personalia. Umumnya, tugas utama HRD adalah mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan karyawan, mulai sari rekrutmen, pengembangan, evaluasi, konsultasi, administrasi, hingga PHK. Sedangkan, personalia lebih mengacu pada serangkaian kegiatan SDM dalam menangani urusan yang terkait dengan administratif, misalnya payroll, database karyawan, dan lainnya.

    Namun, terkadang memang ada perusahaan yang menggabungkan fungsi HRD dan personalia sehingga banyak orang yang menganggap keduanya sama. Nah, kali ini, kami akan lebih banyak membahas tentang divisi HRD, tepatnya fungsi mereka sebagai strategic business partner.

  2. Peran HR sebagai Strategic Business Partner

    HR sebagai strategic business partner harus dapat menyelaraskan seluruh strategi dan tindakan dengan tujuan perusahaan. Anda dituntut untuk mengidentifikasi keterkaitan antara strategic perusahaan dan fungsi-fungsi yang harus dilakukan HR. Berdasarkan informasi yang didapat, baru Anda bisa memberi kontribusi yang relevan dan signifikan terhadap target pencapaian perusahaan.

    Biasanya, untuk mengetahui sejauh mana peran HRD sebagai strategic business partner, perusahaan melakukan evaluasi. Salah satunya melalui penggunaan HR Scorecard, yang dilengkapi dengan alat ukur kuantitatif sebagai indikator pencapaian target strategi HRD. Tentunya HR Scorecard ini juga disertai target bisnis yang jelas dan penjabaran langkah atau inisiatif untuk mencapainya. Dengan begini, penilaian atau evaluasi bisa dilakukan secara jelas.

  3. Harus Memiliki 3 Kompetensi Utama

    Dibutuhkan persiapan yang tidak sedikit jika Anda berniat mengoptimalkan peran HRD sebagai strategic business partner. Dave Ulrick menyebutkan bahwa HR setidaknya harus memiliki tiga kompetensi bisnis utama, yaitu:

    Strategic positioner

    Kompetensi ini terkait dengan peran HR dalam mendorong pertumbuhan bisnis yang diinginkan perusahaan demi terciptanya keunggulan kompetitif. Untuk itu, HR dituntut untuk memahami bisnis dan cara beroperasinya.

    Credible activist

    HR harus mendapat kepercayaan dari manajemen atau pimpinan perusahaan serta karyawan sebagai partner kerja yang kredibel serta dapat diandalkan. Dalam hal ini, kemampuan komunikasi HR sangat diandalkan karena sebagai strategic business partner, HR harus bisa menyampaikan aspirasi karyawan kepada pimpinan sekaligus mengomunikasikan kebijakan pimpinan kepada karyawan.

    Paradox navigator

    Kompetensi ini menuntut HR untuk menjadi divisi yang fleksibel, terutama jika berkaitan dengan finansial perusahaan. HR harus bisa peka terhadap kondisi finansial perusahaan agar dapat menyelaraskan strategi mereka dengan kebutuhan perusahaan.

  4. Didukung dengan 6 Kompetensi Bisnis Tambahan

    Nah, berdasarkan tiga kompetensi utama tersebut, kompetensi HR dikembangkan lagi menjadi enam kompetensi tambahan, yakni:

    Compliance manager – Tak hanya harus mematuhi regulasi perusahaan, HR juga harus dapat mencegah karyawan agar tidak melakukan ketidakpatuhan. Dengan begitu, HR sebagai strategic business partner pun berfungsi untuk menjaga profil risiko perusahaan.

    Analytics designer and interpreter – Aktivitas HRD melibatkan banyak data penting yang dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan strategis. Contohnya, berdasarkan data, ada karyawan di bidang finansial yang background-nya justru berasal dari marketing. Nah, karyawan tersebut bisa diminta membantu divisi marketing saat misalnya load pekerjaan sedang tinggi.

    Technology and media integrator – Proses kerja HRD tidak bisa dilepaskan dari teknologi, yang memang berfungsi untuk memudahkan pekerjaan sehari-hari. Anda bisa menggunakan software Sleekr HR yang memungkinkan divisi HR untuk mengelola banyak hal terkait karyawan secara mudah dan otomatis, mulai dari absensi, payroll, hingga pembayaran pajak.

    Culture and change champion – HR harus dapat menjadi “perekat” untuk membantu karyawan dalam meningkatkan komitmennya terhadap perusahaan, yakni dengan menciptakan budaya yang terbuka dan transparan.

    Human capital curator – Kompetensi ini mengharuskan HR untuk memastikan bahwa setiap proses yang dilakukan telah sejalan dengan kebutuhan perusahaan.

    Total Rewards Stewards – Meningkatkan kesejahteraan karyawan dengan memberikan penghargaan sepatutnya kepada mereka. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan retensi karyawan.    

Di zaman yang semakin maju, HR terus dituntut untuk memberikan performa terbaik mereka. Tak lagi hanya bertanggung jawab terhadap hal-hal terkait karyawan, HR juga harus mampu berperan sebagai strategic business partner. Artinya, HR juga harus mampu menyelaraskan proses kerja dan strateginya dengan target perusahaan. Agar bisa lebih fokus dalam menjalankan peran sebagai strategic business partner,Dapatkan informasi secara lebih lengkap dan jelas tentang Mekari Talenta di sini!

WhatsApp WhatsApp Sales