×

3 Hal Penting yang Perlu Anda Perhatikan untuk Menghitung Pesangon Karyawan

February 9, 2018 Human Resources (HR)

Saat masa kerja seorang karyawan berakhir atau terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), pihak perusahaan atau pemberi kerja idealnya wajib menyerahkan sejumlah uang. Pemberian ini disebut juga dengan uang pesangon.

Sekilas, pemberian pesangon karyawan memang terlihat simpel Pada praktiknya, masih banyak kesalahpahaman yang terjadi antara perusahaan dan karyawan. Buktinya hingga saat ini masih ada karyawan-karyawan yang melakukan demonstrasi terkait pesangon setelah mereka mendapat PHK atau mengundurkan diri.

Padahal, segala kebijakan dan penghitungan terkait pesangon karyawan sudah ditentukan dalam undang-undang. Nah, untuk memastikan bahwa Anda sudah memberikan hak pesangon karyawan yang adil, tidak ada salahnya menyimak penjelasan berikut ini.

Pesangon karyawan
Penghitungan pesangon karyawan telah diatur dalam kebijakan pemerintah. (Source: Pexels)

  1. Undang-undang yang Mengatur tentang Pesangon Karyawan

    Kebijakan tentang pemberian uang pesangon karyawan oleh perusahaan telah diatur dalam Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Pasal 156 Ayat (1) tentang Ketenagakerjaan yang berbunyi:

    “Dalam hal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), pengusaha diwajibkan membayar uang pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak yang seharusnya diterima.”

    Baca juga: 5 Tips Melakukan Pemecatan Karyawan

  2. 3 Jenis Ketentuan Uang Pesangon

    Berdasarkan Undang-undang No. 13 Tahun 2003 Pasal 156 Ayat (1) yang telah dijabarkan di atas, ada tiga jenis pemberian uang kepada karyawan. Selain uang pesangon, ada pula uang penghargaan masa kerja dan uang penggantian hak. Tiga jenis pemberian uang tersebut wajib diberikan kepada karyawan yang mengalami PHK. Lalu, apa perbedaan di antara ketiganya?

  3. Uang pesangon

    Besarnya uang pesangon karyawan yang wajib Anda berikan juga telah ditentukan oleh Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003 Pasal 156 Ayat (2), yakni sebagai berikut?

    –  Masa kerja < 1 tahun: 1 bulan upah

    –  Masa kerja > 1 tahun sampai < 2 tahun: 2 bulan upah

    –  Masa kerja > 2 tahun sampai < 3 tahun: 3 bulan upah

    –  Masa kerja > 3 tahun sampai < 4 tahun: 4 bulan upah

    –  Masa kerja > 4 tahun sampai < 5 tahun: 5 bulan upah

    –  Masa kerja > 5 tahun sampai < 6 tahun: 6 bulan upah

    –  Masa kerja > 6 tahun sampai < 7 tahun: 7 bulan upah

    –  Masa kerja > 7 tahun sampai < 8 tahun: 8 bulan upah

    –  Masa kerja > 8 tahun: 9 bulan upah

    Dalam hal ini, upah adalah jumlah gaji pokok ditambah tunjangan tetap, contohnya seperti tunjangan makan, transportasi, dan kesehatan. Namun, perlu diketahui bahwa setiap perusahaan memiliki jumlah tunjangan tetap yang berbeda.

  4. Uang penghargaan masa kerja

    Apabila seorang karyawan telah bekerja minimal tiga tahun di perusahaan, lalu ia terkena PHK, maka Anda wajib memberikan uang penghargaan masa kerja (UPMK) sebagai bentuk penghargaan. Jumlahnya telah ditentukan dalam Undang-undang Ketenagakerjaan Pasal 156 Ayat (3).

    –  Masa kerja > 3 tahun sampai < 6 tahun: 2 bulan upah

    –  Masa kerja > 6 tahun sampai < 9 tahun: 3 bulan upah

    –  Masa kerja > 9 tahun sampai < 12 tahun: 4 bulan upah

    –  Masa kerja > 12 tahun sampai < 15 tahun: 5 bulan upah

    –  Masa kerja > 15 tahun sampai < 18 tahun: 6 bulan upah

    –  Masa kerja > 18 tahun sampai < 21 tahun: 7 bulan upah

    –  Masa kerja > 21 tahun sampai < 24 tahun: 8 bulan upah

    –  Masa kerja > 24 tahun: 10 bulan upah

  5. Uang penggantian hak

    Menurut Undang-undang Ketenagakerjaan Pasal 156 Ayat (4), ada beberapa jenis uang penggantian hak yang wajib diberikan perusahaan kepada karyawan jika karyawan tersebut kena PHK, yaitu:

    –  Cuti tahunan yang belum sempat diambil atau belum gugur

    –  Biaya transportasi pekerja ke tempat ia bekerja (biasanya diberikan saat karyawan ditugaskan ke daerah lain yang cukup sulit dijangkau)

    –  Biaya penggantian perumahan serta pengobatan perawatan yang ditetapkan 15% dari uang pesangon dan/atau UPMK bagi yang memenuhi syarat

    –  Hal-hal lain yang ditetapkan dalam perjanjian kerja dan peraturan perusahaan.

Pesangon karyawan
Ada perbedaan antara yang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak. (Source: Pixabay)

  1. Cara Menghitung Pesangon Karyawan

    Misalnya, karyawan A mendapat gaji pokok Rp3 juta per bulan dengan tunjangan transportasi Rp1 juta per bulan. Setelah 5 tahun 6 bulan bekerja di perusahaan X, karyawan A mengalami PHK per 30 Juni. Ia telah mengambil hak cuti tahunan sebanyak 6 hari dari totak hak cuti 12 hari setahun. Berapa uang pesangon karyawan yang harus diberikan perusahaan kepada karyawan A?

    Upah yang didapatkan karyawan A per bulan:

    Gaji pokok + tunjangan tetap = 3.000.000 + 1.000.000 = 4.000.000

    Uang pesangon dengan masa kerja 5 tahun 6 bulan (6 bulan upah):

    6 x 4.000.000 = 24.000.000

    Uang penghargaan masa kerja untuk masa kerja 5 tahun 6 bulan (2 bulan upah):

    2 x 4.000.000 = 8.000.000

    Uang penggantian hak cuti:

    (Jumlah hak cuti yang belum diambil / jumlah hari kerja dalam sebulan) x upah tetap dalam sebulan = (6/20) x 4.000.000 = Rp1.200.000

    Maka, jumlah kewajiban yang harus dibayarkan perusahaan kepada karyawan A:

    UP + UPMK + UPH = 24.000.000 + 8.000.000 + 1.200.000 = 33.200.000

Itulah cara menghitung pesangon karyawan sesuai kebijakan pemerintah. Untuk memudahkan prosesnya, Anda bisa menggunakan software seperti Sleekr HR sehingga bisa terotomatisasi dan menghemat waktu. Kesalahan penghitungan pun bisa diminimalisir sehingga hak pesangon karyawan terpenuhi.

Artikel terkait

4 Hal Penting Untuk Peningkatan Manajemen SDM Bagi UKM

March 2, 2016 Human Resources (HR)

Usaha Kecil Menengah atau disingkat UKM merupakan salah satu sektor yang sanggup bertahan meski diterpa badai krisis tahun 1997 lalu. UKM kini salah satu sendi penting perekonomian Indonesia. Jika dilihat dari jumlah karyawannya, UKM jelas jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan besar. Namun bukan berarti UKM tidak butuh SDM yang berkualitas. Nah, dalam proses meningkatkan manajemen…

Baca selengkapnya