We are hiring!
Undang demo
×

Lakukan 4 Hal Ini Agar Karyawan Unggulan Tidak Meninggalkan Perusahaan Saat Krisis

Sebagai pemilik bisnis, Anda tentu akan mengerahkan usaha semaksimal mungkin untuk membuat setiap karyawan betah bekerja dengan Anda—terutama karyawan-karyawan unggulan Anda. Namun, faktor-faktor eksternal seperti krisis ekonomi terkadang tak dapat terelakkan sehingga menyebabkan kondisi perusahaan ikut kritis. Parahnya, karyawan unggulan Anda juga ikut mengeluarkan tanda-tanda bahwa mereka akan meninggalkan Anda.

Apa pun bentuknya, krisis dalam perusahaan pasti juga akan ikut berimbas pada departemen Human Resources (HR). Ketika dihadapkan dengan suatu krisis, biasanya perusahaan memiliki beberapa action plan yang berhubungan dengan HRD, misalnya seperti pengurangan jumlah karyawan atau penutupan perusahaan. Jika perusahaan memilih opsi PHK, risiko yang dihadapi adalah hilangnya SDM yang sebenarnya memiliki kompetensi bagus.

Terlebih, dalam suatu krisis di perusahaan, biasanya justru karyawan-karyawan yang kurang kompeten yang tetap tinggal. Mencari pekerjaan baru tidak akan mudah bagi mereka. Nah, agar karyawan unggulan tidak meninggalkan perusahaan saat terjadi krisis, ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh Departemen HR.

Karyawan unggulanSaat perusahaan mengalami krisis, kehadiran karyawan unggulan sangat dibutuhkan. Jangan biarkan mereka pergi meninggalkan Anda. (Source: Hillyne – Pixabay)

  1. Mengetahui Situasi yang Sedang Dihadapi Perusahaan

    Hal pertama yang harus dilakukan oleh Departemen HR untuk mengatasi hal tersebut seberapa besar skala krisis yang kini dialami. Dalam hal ini, Departemen HR tidak hanya bertanggung jawab untuk urusan administratif seperti penggajian atau training, tetapi juga berfungsi sebagai business partner. Dengan benar-benar mengetahui situasi yang sedang melanda perusahaan, Departemen HR bisa membantu perusahaan untuk menilai karyawan mana saja yang skill-nya sesuai dengan kebutuhan terkini perusahaan.

  2. Value Seperti Apa yang Ingin Dihasilkan Perusahaan?

    Selain mempelajari situasi yang sedang dihadapi perusahaan, Departemen HRD juga perlu mengetahui value atau outcome seperti apa yang ingin dihasilkan oleh perusahaan, terutama dalam kondisi krisis seperti sekarang. Berdasarkan berbagai informasi yang diketahui, baik terkait situasi mau pun value atau outcome, Departemen HRD pun bisa menyiapkan rencana untuk diimplementasikan. Namun, dalam rencana implementasi, Departemen HRD harus bisa memastikan bahwa rencana tersebut mampu mengakomodasi kebutuhan jangka pendek dan jangka panjang.

    Baca juga: 4 Tips Perencanaan SDM bagi Perusahaan Anda

Karyawan unggulanSalah satu penyebab karyawan unggulan ingin meninggalkan perusahaan adalah karena mereka merasa overwork. (Source: Marvin Lee – Flickr)

  1. Lakukan Pemetaan Jika Memang Ada Karyawan yang Harus Dikeluarkan

    Tidak ada perusahaan yang ingin mengeluarkan karyawannya sendiri, terutama jika karyawan tersebut tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, krisis kerap membuat perusahaan terpaksa mengambil langkah-langkah tertentu yang sebenarnya kurang dikehendaki, salah satunya yaitu mengeluarkan karyawan. Ketika hal ini terjadi, Departemen HRD dituntut untuk bisa melakukan pemetaan atau assessment. Tujuannya adalah agar perusahaan bisa menghindari perginya SDM-SDM yang kompeten karena situasi ketidakpastian yang sedang dihadapi perusahaan akibat krisis.

  2. Beberapa Faktor Lain yang Memengaruhi

    Di sisi lain, keputusan karyawan unggulan untuk meninggalkan perusahaan juga bisa disebabkan oleh hal-hal selain krisis. Hal ini tentunya terkait dengan loyalitas karyawan tersebut terhadap perusahaan. Pemicu loyalitas ini bentuknya bisa bermacam-macam, yang mungkin Anda sadari atau tidak telah melakukannya. Dilansir dari situs Huffington Post, berikut adalah beberapa hal yang umumnya menjadi alasan mengapa karyawan unggulan memutuskan untuk resign:

    – Mereka merasa overwork

    – Anda tidak menghargai kerja keras mereka atau kurangnya penghargaan

    – Anda tidak memenuhi komitmen yang telah Anda janjikan

    – Kemampuan leadership atasan yang kurang

    – Kurang jelasnya tujuan perusahaan

    – Tidak seimbangnya kepentingan personal dan profesional

    – Kurangnya pemberdayaan dan pengembangan kemampuan

    Baca juga: Kenali 5 Tanda Utama Karyawan Resign di Perusahaan Anda

Selama krisis terjadi, secara natural, wajar apabila karyawan Anda merasa panik dan bingung. Mereka pasti akan bertanya-tanya tentang kepastian nasib mereka. Demi mengatasi hal tersebut, penting bagi Anda untuk terus melakukan komunikasi yang jelas dan lancar. Good luck!